GBI EL GIBBOR

COME AND JOIN WITH US, PRAISE AND WORSHIP OUR LORD GOD BLESS YOU.....

GBI EL GIBBOR

COME AND JOIN WITH US, PRAISE AND WORSHIP OUR LORD GOD BLESS YOU.....

Pages

Monday, November 18, 2013

“SOLUSI DOSA (4): PEMBENARAN”

“SOLUSI DOSA (4): PEMBENARAN”
Kesimpulan rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma adalah: “Semua manusia sidah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rom. 3:23). Kita sudah tahu, kemuliaan Allah itu pernah diberikan kepada Adam dan Hawa ketika mereka diciptakan pertama sekali. Dengan sangat jelas Alkitab mengatakan: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej. 1:27). Gambar Allah itu adalah kemuliaan Allah yang akhirnya hilang karena dosa. Tidak ada satupun literatur di dunia ini yang mencatatkan tentang penciptaan manusia dan kejatuhannya ke dalam dosa secara jelas dan lengkap selain Alkitab!

Manusia pertama diciptakan bukan sekedar “bim salabim, maka jadilah.” Penciptaan yang “bim salabim” sebagaimana banyak dipercaya manusia adalah irrasional, absurd, kontrakdiktif, berantakan dan chaos tanpa paradigma. Oleh sebab itu hasil penciptaan seperti ini tidak dapat dikaji dengan nalar atau intelektualitas. Allah tidak pernah menciptakan dengan model “bim salabim” atau sejenisnya, tetapi berdasarkan kuasa dan intelektualitas yang tanpa batas. Oleh sebab itu dengan ilmu pengetahuan semua ciptaan yang bersifat materi seperti tubuh manusia bisa diurai dan dijelaskan secara pasti dan lengkap. Ternyata tubuh manusia merupakan sebuah sistem yang di dalamnya terdapat ribuan organ, jutaan unit dan milyaran sel yang berkaitan satu sama lain untuk membentuk sebuah kehidupan. Sungguh sebuah produk ciptaan yang sangat canggih dari yang Mahacanggih. Hal itu membuktikan intelektualitas Allah ada di dalam semua ciptaan-Nya. Jika tidak diciptakan dengan intelektualitas, maka manusia hanyalah dongeng Alice in Wonderland, Sinbad,Batman, Superman dan sejenisnya.

Kembali kepada masalah. Faktanya manusia yang diciptakan dengan intelektualitas dan gambar Allah, harus menjadi “barang rongsokan” atau hanya seonggok daging yang sedang berproses menjadi tanah oleh karena DOSA. Dari perspektif Allah sebagai Pencipta, manusia rusak total! Bukan hanya itu, dari perspektif hukum, manusia dinyatakan bersalah dan tidak benar karena telah melanggar hukum yang ditetapkan Allah. Alkitab mengabadikan kebenaran ini sebagaimana ditulis oleh rasul Paulus dengan mengutip kitab Mazmur 14:1-3: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak” (Rom. 3:10). Ketidakbenaran manusia telah menghantar mereka pada penghakiman dan putusan telah dijatuhkan. Putusan yang diterima oleh semua orang yang tidak benar adalah persis sama dengan putusan yang diterima nenek moyang mereka yaitu Adam dan Hawa. Hal itu sebagai konsekuensi hukum waris mewaris. Adam dan Hawa sebagai pewaris mewariskan segala sesuatu yang mereka miliki kepada anak cucu dan keturunannya yaitu seluruh umat manusia. Warisan itu adalah dosa dan kematian.

Pada tulisan-tulisan yang lalu telah dijelaskan apa hukuman yang harus diterima oleh manusia yang tidak benar (berdosa). Terpisah dengan Allah dan kematian kekal adalah vonis primer terberat dan disertai dengan semua vonis yang bersifat subsider. Tanpa pembenaran, manusia tetap bersalah dan harus menjalankan eksekusi atas semua hutang dosa yang sedemikian banyak. Tidak ada kesanggupan manusia untuk membela diri karena telah terbukti bersalah berdasarkan fakta yaitu DOSA. Di dalam dirinya sendiri, manusia tidak mempunyai alasan pembenar atau pemaaf untuk meluputkan mereka dari hukuman Allah. Manusia berdosa tidak punya kemampuan untuk membenarkan diri sekalipun dengan melakukan segala daya upaya terbaiknya.

Tetapi berita baik telah dinyatakan oleh Tuhan. Allah yang Mahabenar telah membuat jalan sebagai solusi atas ketidakbenaran manusia. Simaklah firman ini baik-baik: “Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan” (Rom. 3:21-22). Kata kunci dari firman Tuhan tersebut adalah kata “hukum Taurat, kebenaran Allah dan iman dalam Yesus Kristus.” Mari kita pelajari satu persatu.

Pertama, kata “ tanpa hukum Taurat” kebenaran Allah telah dinyatakan.” Apakah ukuran kebenaran Allah itu? Jika orang beragama berkata “Allah itu Mahabenar”, maka apakah yang menjadi ukuran kebenarannya? Bisakah diterima kesaksian yang tanpa dasar dan fakta untuk membuktikan bahwa Allah itu Mahabenar? Kesaksian seperti itu pasti tidak bisa diterima. Banyak orang menjadi subyektif karena tidak bisa memberi data dan fakta bahwa Tuhan itu Mahabenar. Tetapi Alkitab dengan jelas menjawab apakah ukuran kebenaran Allah itu. Ukuran kebenaran Allah adalah “hukum Taurat.” Ketika Allah memberikan hukum Taurat kepada bangsa Israel melalui Musa, maksudnya supaya bangsa itu memiliki konstitusi kebenaran dalam kaitannya dengan Allah dan manusia. Bangsa Israel, sebagai umat pilihan Tuhan, dituntut hidup benar di hadapan Tuhan dan manusia melalui kebenaran hukum Taurat.

Apakah Anda masih bingung dan kurang faham? Baiklah diberikan sebuah contoh. Melalui hukum Taurat Tuhan memerintahkan supaya manusia mengasihi Allah. Firman Tuhan: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:5). Mengasihi Tuhan adalah kebenaran yang terukir dalam hukum Taurat. Apa ukuran mengasihi Tuhan? Pikirankah? Perasaankah? Khayalankah? Perbuatankah? Tidak! Lalu, apa? Tuhan tidak membiarkan manusia bingung. Ukuran mengasihi Tuhan adalah “dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan.” Kurang dari ukuran ini bukanlah kasih dan kebenaran. Jika Anda dan saya mengasihi Tuhan kurang dari standar di atas, maka sebenarnya kita tidak mengasihi-Nya. Jadi, standar mengasihi Tuhan ditetapkan oleh Tuhan, bukan manusia. Standar Allah tidak akan pernah diturunkan barang sedikit pun! Allah konsisten dengan ukuran kebenarannya secara mutlak. Pertanyaannya, apakah manusia sanggup melakukan kebenaran ini secara konsisten dan sustainable? Jelas tidak mampu. Dan memang tidak seorang pun manusia mampu.

Jika tidak seorang pun manusia mampu mengasihi Allah sesuai standar-Nya, mengapa banyak orang berpura-pura mengasihi Dia? Mengapakah manusia menyeru nama-Nya yang Mahabenar sedangkan Dia benci kepada dusta dan kemunafikan? Apakah kita berfikir ketekunan kita beribadah, memberi sedekah, berbuat baik dan sebagainya sudah mencapai standar Allah? Bukankah kita hanya berdusta dan munafik karena sebenarnya kita tahu apa yang kita lakukan itu tidak memenuhi standar Allah? Mari kira mengukur dii sendiri dan memberi jawaban jujur apakah kita sudah mengasihi Allah sesuai kebenaran. Jika belum Anda dan saya ternyata jauh dari kebenaran Allah, yaitu hukum Taurat.

Itu baru satu perintah. Bagaimana dengan perintah lain? Sedihnya, gagal melakukan satu perintah hukum Taurat, maka gagal untuk keseluruhan (pars pro toto). Dan yang paling menyedihkan, gagal pada kesempatan pertama, maka tidak akan ada kesempatan kedua. Dengan memahami dan menyadari kebenaran ini, mestinya manusia frustrasi, stress dan takut karena di ujung dari kegagalan memenuhi tuntutan hukum Taurat adalah penghukuman. Firman Tuhan: “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat" (Gal. 3:10). Jenis hukuman orang terkutuk adalah disalibkan: “...sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah... (Ul. 21:23). Bisa dibayangkan resiko orang yang tidak benar karena tidak mampu melakukan perintah hukum Taurat yang kudus? Tidakkah manusia takut akan hal ini dan tetap berpura-pura di hadapan Allah?

Kedua, beriman dalam Yesus (Rom. 3:22). Meskipun manusia gagal memenuhi tuntutan hukum Taurat yang kudus, Allah memberi solusinya. Kembali sejenak kepada ayat yang mengatakan “tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan...” Artinya Allah telah meninggalkan cara hukum Taurat dan membuka jalan yang baru untuk manusia memperoleh pembenaran. Cara baru ini adalah beriman kepada Yesus Kristus. Dengan beriman kepada Yesus Kristus, maka setiap orang yang berdosa dibenarkan. Yesus Kristus adalah standar kebenaran Allah yang sempurna. Hanya Yesus Kristuslah yang mampu memenuhi standar kebenaran hukum Taurat. Dia melakukan semua hukum Taurat tanpa bercacat cela dan sempurna. Dan sejatinya Dialah nilai kebenaran yang berada di dalam hukum Taurat itu sendiri. Jika pada zaman dahulu standar kebenaran Allah tertulis dalam dua log batu yang berisi sepuluh hukum Taurat yang ditulis dengan jari Allah, maka pada zaman anugerah ini standar kebenaran Allah adalah firman Allah yang hidup, firman yang telah menjadi manusia yaitu Yesus Kristus.

Bukankah cara baru ini sangat ajaib dan penuh anugerah? Melalui iman kepada Yesus Kristus, kebenaran Allah dianugerahkan dengan cuma-cuma. Oleh sebab itu Anda dan saya yang percaya kepada-Nya menjadi orang benar. Pertanyaannya, sebenar apakah kebenaran orang yang percaya kepada Yesus? Jawabnya, sebenar kebenaran Yesus Kristus. Dan sejatinya Yesus Kristus adalah kebenaran (Yoh. 14:6). Luar biasa. Itu berarti, dengan mempercayai Yesus Kristus, maka kebenaran kita sama benar dengan kebenaran Allah. Itu sebabnya orang yang percaya kepada Yesus Kristus dengan senang hati akan diterima oleh Allah yang Mahabenar. Kurang dari itu, berarti tidak benar. Semua orang yang tidak benar pasti ditolak dan dibuang Allah!

WARNING

Rom. 3:23-24
Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus (to be continued...}

“SOLUSI DOSA (3): PENERAPAN PENGAMPUNAN”

“SOLUSI DOSA (3): PENERAPAN PENGAMPUNAN”
Topik tentang dosa dan solusinya adalah topik yang paling banyak disalah-mengerti oleh orang-orang percaya apalagi yang belum percaya. Hal itu disebabkan karena dosa tidak dimengerti secara jelas. Apa yang telah diuraikan dalam tulisan sebelumnya kiranya akan membuat para pembaca menjadi jelas mengerti tentang dosa dan solusinya. Pertanyaannya, apakah seseorang yang dosanya sudah diampuni melalui pengorbanan Yesus tidak akan melakukan dosa lagi? Apakah mereka sudah kudus dalam seluruh hidup dan tingkah lakunya? Bukankah kenyataannya orang-orang yang sudah diampuni dosanya masih banyak melakukan dosa? Bukankah banyak orang percaya yang iri hati, menyimpan dendam, kebencian, berpikiran kotor, cabul dan ribuan lagi dosa yang tidak dapat disebutkan satu per satu?

Pertanyaan-pertanyaan di atas banyak sekali membuat orang-orang percaya bingung. Orang-orang yang belum percaya merasa skeptis dan menganggap kekristenan itu tidak masuk akal dan utopia. Oleh sebab itu harus ada pembelaan (apologetik) yang memadai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Memang ada banyak doktrin dalam kekristenan yang sepertinya kontradiksi dengan realitas. Untuk itu perlu penjelasan. Anehnya, banyak orang percaya tidak mampu memberi jawaban yang argumentatif dan induktif. Kebanyakan penjelasan yang diberikan bersifat deduktif, praduga, prasangka dan pemahaman ala kadarnya sehingga membuat lebih banyak lagi orang bingung dan skeptis.

Mari kita selesaikan kebingungan ini. Pertnyaan, apakah dosa orang yang sudah diampuni dan dihapus tidak lagi membuat orang itu melakukan dosa? Dengan kata lain, apakah orang percaya masih bisa melakukan dosa? Untuk menjawab pertanyaan ini maka yang harus dipahami lebih dahulu adalah realitas penciptaan. Manusia diciptakan Tuhan dengan dua personalitas.

Pertama, PERSONALITAS TERDALAM yaitu roh yang tercipta dari hembusan nafas Allah. Tentunya semua orang tahu bahwa manusia dibangun dengan eksistensi roh. Pada awalnya, sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, roh manusia masih suci dan tidak berdosa. Melalui roh itu Adam dan Hawa mampu berelasi dan berkomunikasi dengan Allah secara langsung. Dalam kitab Kejadian dengan jelas disebutkan Allah dengan Adam dan Hawa sering bersekutu. Persekutuan itu digambarkan dengan kalimat: “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk,...” (Kej. 3:8). Di taman Eden Allah senantiasa datang menghampiri manusia pertama itu untuk bersekutu.

Tetapi setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, persekutuan mereka dengan Allah terputus dan hilang. Roh manusia sebagai personalitas yang setara dengan pribadi Allah yang adalah Roh tercemar oleh dosa dan terdegradasi. Allah Roh, maka barang siapa hendak menyembah Allah harus menyembah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Tetapi roh Adam dan Hawa sudah tercemar dosa sehingga mustahil bisa menyembah dan bersekutu dengan Allah secara benar. Semua kemewahan dan hak privilege untuk bertemu dengan Tuhan dicabut. Itulah harga ketidaktaatan yang telah dipilih oleh Adam secara sadar. Esensi manusia adalah roh, sifatnya kekal dan tidak terbinasakan. Oleh sebab itu ketika seseorang mati tidak berarti segalanya akan berakhir. Memang kehidupan fana akan berhenti dengan matinya seseorang, tetapi menjadi awal babak baru dalam alam baka.

Kedua, PERSONALITAS LUAR manusia. Disebut juga dengan tubuh fisik atau jasmani. Tubuh diciptakan dari materi berbahan tanah. Tubuh menjadi hidup ketika roh manusia berdiam di dalamnya. Ketika Allah menghembuskan nafas kehidupan, bukan hanya personalitas terdalam yaitu roh yang hadir dan berdiam dalam diri Adam tetapi tubuh pisik terbuat dari tanah yang tadinya mati menjadi hidup (bios). Itu sebabnya orang akan hidup apabila rohnya masih beridiam di dalam tubuhnya. Tetapi jika seseorang mati, rohnya tercabut, maka seketika itu tubuh pisiknya mati dan akan kembali jadi tanah. Ketika menciptakan Adam, Allah merancang untuk hidup kekal. Tubuh yang mereka miliki meskipun terbuat dari tanah, diciptakan bisa bertahan selama-lamanya. Tetapi oleh karena dosa, baik personalitas terdalam (roh) dan personalitas luar (fisik) degradatif dan destruktif. Artinya, secara roh manusia terpisah dari Allah dan akan binasa selamanya, sedangkan pisiknya akan hancur terurai menjadi tanah.

Bacalah kembali Alkitab Anda. Dalam kitab Kejadia Allah berfirman: “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati." (Kej. 2:17). Perhatikan kata “mati” di ayat itu. Allah tidak berdusta dengan firman-Nya ini. Sesungguhnya Adam dan Hawa mengalami kematian ketika mereka berdosa dengan memakan buah terlarang. Diawali mati secara roh dan akhirnya jasmani. Kematian secara roh terjadi seketika sedangkan mati secara jasmani terjadi kira-kira 900 tahun kemudian. Kematian rangkap dua (double impact) inilah yang diwariskan kepada seluruh keturunannya sepanjang segala abad hingga kiamat tiba.

Dari uraian di atas menjadi jelas bahwa dosa mengakibatkan manusia mati secara rohani dan jasmani. Bukan hanya itu, jiwa sebagai ekspresi manusia yang terdiri dari pikiran, keinginan, kehendak turut pula tercemar dosa. Bobroknya persoanalitas terdalam manusia tersalurkan ke dalam jiwa dan akhirnya termanifestasi ke dalam sikap (jasmani). Jadi semua kejahatan yang terlihat dalam tindakan seseorang adalah sebuah proses yang diawali jiwa yang tercemar, kemudian berakhir pada tindakan jahat (Mat. 15:19). Bisa dibayangkan. Keadaan itulah yang diwaris kepada semua manusia keturunan Adam. Dan dengan alasan itu pulalah Allah menghukum manusia di neraka selama-lamanya jika Allah tidak melakukan tindakan penyelamatan. Ternyata Tuhan mempunyai rencana atas manusia berdosa. Melalui Yesus Kristus Allah melakukan penyelamatan sebagaimana telah diuraikan pada tulisan yang lalu.

Kematian Yesus Kristus bertujuan untuk menghapus dosa sekaligus menciptakan manusia baru. Oleh darah Yesus yang tercurah di kayu salib semua orang yang percaya diampuni dan disucikan serta lahir kembali secara rohani. Roh manusia yang dulu mati dihidupkan melalaui kehadiran Roh Kudus. Roh Allah dan roh orang percaya menyatu dan tidak akan pernah terpisahkan. Oleh sebab itu Roh Allah dan roh manusia bisa berseru: “Ya Abba, ya Bapa” (Rom. 8:15). Roh manusia yang belum diampuni, disucikan dan dilahirkan kembali mustahil melakukan hal itu dan akan terus menerus di dalam dosa kecuali dia datang kepada Allah dan bertobat. Dengan tegas Yohanes berkata: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah” (1 Yoh. 3:9). Selanjutnya dia menulis: “Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya” (1 Yoh. 5:18).

Siapakah yang lahir dari Allah? Semua orang percaya lahir dari Allah, lahir secara roh, bukan pisik atau jasmani. Lebih lanjut ayat itu berkata; “setap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat DOSA.” Itu berarti roh mereka yang lahir dari Allah sudah diampuni, disucikan dan tidak mungkin berdosa. Pengampunan itu terjadi sekali untuk selamanya. Oleh sebab itu keselamatan orang percaya mustahil hilang. Apabila orang percaya tersebut mati, maka rohnya yang sudah diampuni, disucikan dan menyatu dengan Roh Kudus akan kembali kepada pemiliknya yaitu Allah meskipun jasmaninya mati. Kelak, pada waktu kebangkitan tubuh orang percaya tersebut akan dibangkitkan, diubahkan dan digantikan dengan tubuh baru yang disebut tubuh kebangkitan. Tubuh itu akan menyatu dengan rohnya dan hidup kekal selamanya bersama Allah. Bukankah itu sangat mulia dan menghibur?

Tetapi harus diingat, meskipun roh orang percaya telah diampuni dan disucikan sehingga mustahil berdosa, tetapi jiwanya harus dibaharui terus menerus. Tubuh orang percaya tidak turut dilahirkan. Tubuh itu disebut tubuh daging karena di dalamnya dosa masih giat bekerja melalui berbagai keinginannya (lust). Keinginan daging tersebut akan terus menerus berjuang mempengaruhi dan mengalahkan jiwa orang percaya (Rom. 7:23). Melalui keinginan daging inilah orang-orang percaya dimungkinkan melakukan dosa. Bukankah di atas telah disebut bahwa jiwa terdiri dari unsur pikiran, perasaan dan kehendak? Ketika seseorang memikirkan, katakanlah percabulan, maka perasaannya dengan cepat terbakar dan mendukung keinginan untuk segera melakukan percabulan. Ketahuilah, perasaan sangat mudah terbakar dan mudah padam. Ketika pikiran dan perasaan sudah dibakar oleh api percabulan, maka orang itu sudah jatuh dalam dosa perzinahan baik secara pikiran dan dengan berbagai cara dan kesempatan akan diwujudkan dalam tindakan.

Sebagai kesimpulan, pertanyaan apakah orang percaya masih bisa melakukan dosa? Jawabannya, roh orang percay mustahi berdosa tetapi jiwanya masih dimungkinkan melakukan dosa oleh karena godaan dan rangsangan manusia lama yang masih bercokol dalam tubuh jasmaninya. Ketika orang percaya tergoda dengan mengikuti keinginan dagingnya, maka saat itu dia jatuh ke dalam perbuatan dosa. Ingat, perbuatannya yang berdosa dan tercemar, bukan rohnya. Oleh sebab itu, manusia baru yang di dalamnya diam roh yang sudah dibaharui, diampuni dan disucikan harus lebih kuat dan dominan agar bisa mengalahkan keinginan manusia lamanya. Jangan kuatir, Allah menyediakan pengampunan kepada anak-anak-Nya yang jatuh ke dalam dosa. Di sinilah peran pengampunan bagi orang percaya yang melakukan dosa berlaku. Setiap hari dengan rendah hati orang percaya harus mengakui dosa-dosa yang dilakukannya. Paulus berkata; “Dalam segala hal kita masih banyak melakukan kesalahan.” Jadi penerapan pengampunan yang disediakan Allah senantiasa berlaku bagi orang-orang percaya ketika ia melakukan dosa melalui jiwanya.

WARNING
1 Yoh. 1:9
Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan ( to be continued...)

“SOLUSI DOSA (2): OBYEKTIFITAS PENGAMPUNAN”

“SOLUSI DOSA (2): OBYEKTIFITAS PENGAMPUNAN”
Dosa tidak terhapus dengan perbuatan baik, ajaran agama, filsafat dan sebagainya seperti telah diuraikan pada tulisan yang lalu. Adam dan Hawa berdosa karena melanggar perintah Tuhan, bukan karena melakukan sebuah kejahatan (crime). Mereka telah berdosa sebelum kejahatan eksis. Kejahatan manusia mulai muncul setelah Adam dan Hawa dibuang ke luar taman Eden, ke bumi. Di sanalah manusia mulai melakukan kejahatan sebagai buah dosa. Jika hanya sekedar perbuatan jahat, maka dosa bisa dihentikan dengan cara berhenti melakukan kejahatan. Tetapi faktanya tidak demikian. Sebagai dosa warisan, maka semua orang sudah berdosa sejak awal meskipun seseorang tidak pernah melakukan kejahatan. Dosa dalam arti hakekat adalah melanggar perintah Tuhan, sedangkan dosa sebagai kejahatan adalah pelanggaran terhadap peraturan hukum dan hak-hak orang lain. Telah disebut bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah dosa manusia adalah PENGAMPUNAN.

Siapakah yang berwewenang mengampuni dosa manusia? Jawabnya sangat sederhana yaitu Tuhan. Semua orang tahu itu. Meskipun semua orang tahu bahwa Tuhanlah yang berhak mengampuni dosa, tetapi kebanyakan pengetahuan manusia bersifat subyektif dan tidak obyektif. Subyektifitas inilah yang membuat manusia salah memahami makna pengampunan. Obyektif tidaknya pengetahuan manusia senantiasa diuji dengan pertanyaan-pertanyaan yang mahapenting ini: 1) Bagaimana cara Tuhan untuk mengampuni manusia. 2) Apa bukti bahwa Tuhan mengampuni dosa manusia? 3) Apa jaminan bahwa dosa manusia diampuni? Obyektifitas pengetahuan tergantung secara mutlak bagaimana seseorang menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Mari kita elaborasi pernyataan di atas dengan mengutip sebuah firman Tuhan yang berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Sebagai referensi ilahi, maka semua yang tertulis dalam Alkitab adalah kebenaran mutlak.

Pertanyaan pertama yaitu “bagaimana cara Tuhan mengampuni dosa manusia?” Ayat di atas mengatakan “Allah mengaruniakan Anak-Nya.” Kehadiran Anak-Nya yang tunggal di dunia ini adalah fakta sejarah, bukan khayal. Fakta ini jelas obyektif. Kedatangan Yesus ke dunia dan kemudian disalibkan adalah kehendak Allah bukan kehendak manusia. Dengan disalibnya Yesus maka tersedia korban penebus dosa. SALIB adalah cara Allah satu-satunya untuk mengampuni dosa manusia. Di sana Yesus disalibkan dengan luka-luka yang mengucurkan darah. Darah untuk pengampunan dosa. Oleh sebab itu penulis kitab Ibrani mengatakan: “... dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan” (Ibr. 9:22). Oleh sebab itu terlalu naif manusia mengatakan Tuhan itu mahapengampun tetapi tidak mengerti bagaiman cara Tuhan mengampuni dosa. Tanpa mengetahui cara bagaimana dosa diampuni maka pengetahuan tersebut adalah subyektif.

Pertanyaan kedua, “apa bukti Tuhan mengampuni dosa?” Jawaban atas pertanyaan ini adalah KEMATIAN Yesus Kristus. KEMATIAN Yesus adalah bukti kasih Allah dan fakta bahwa dosa diampuni. Pengampunan tidak mungkin terjadi jika Yesus Kristus tidak MATI. Bukankah dosa telah mengakibatkan manusia harus MATI secara pisik dan rohani? Kematian tersebut bertujuan untuk membayar utang dosa setiap orang. Tetapi karena kasih yang tidak terbatas Yesus Kristus rela menggantikan manusia mati. Jika seseorang percaya kepada Yesus maka utang dosa orang itu telah dibayarkan lunas melalui kematian-Nya. Sangat naif pula pemahaman manusia yang mengatakan “Tuhan mahapengampun” tetapi tidak bisa menunjukkan bukti bahwa sudah terjadi pelunasan atas dosa tersebut. Ingat: dosa bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Dosa adalah utang yang menuntut pembayaran. Harga yang pas untuk membayar dosa adalah KEMATIAN. Kematian Yesus adalah harga untuk pelunasan hutang dosa. Tidak ada pengampunan tanpa kematian Yesus Kristus.

Pertanyaan ketiga, “apa jaminan dosa manusia diampuni?” KEBANGKITAN!
Kebangkitan Yesus dari KEMATIAN menjamin dosa semua orang percaya diampuni. Kebangkitan adalah bukti kemenangan Yesus terhadap dosa. Jika Yesus tidak bangkit maka mustahil terjadi kemenangan dan sia-sialah mempercayai Dia.Tetapi faktanya Dia bangkit dari kematian dan hidup kembali. Sekali lagi, kebangkitan-Nya menjadi jaminan bagi setiap orang percaya dosa-dosanya diampuni. Ketika orang-orang percaya mati, dan memang pasti mati, Tuhan akan membangkitkan mereka kembali untuk hidup kekal. Sedangkan orang-orang mati yang dosanya belum diampuni akan dibangklitkan juga BUKAN untuk menerima kemuliaan sorgawi tetapi hukuman dan kehinaan kekal di neraka.

Percaya akan adanya kebangkitan orang mati itu baik. Banyak orang percaya pada kebangkitan orang mati. Pertanyaannya, apakah kebangkitan itu akan membuat seseorang menerima kemuliaan kekal atau kehinaan kekal? Pertanyaan ini harus direnungkan baik-baik sementara masih hidup. Jika manusia sudah mati, yang tertinggal adalah penghakiman terakhir. Semua orang yang dosanya belum diampuni akan dibangkitkan untuk dihukum sedangkan mereka yang dosanya sudah diampuni akan hidup kekal bersama Tuhan di dalam kerajaan-Nya.

WARNING

Rom. 5:8-9:
Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah (to be continued...)

“SOLUSI DOSA (1): PENGAMPUNAN”

“SOLUSI DOSA (1): PENGAMPUNAN”
Di dalam diri manusia tidak ada satupun yang bisa diharapkan untuk melepaskan diri dari masalah dosa. Dosa yang menjadi sifat dasar manusia tidak bisa dihapus dengan cara apapun.

Sebuah iliutrasi yang memberi gambaran tentang keadaan manusia berdosa adalah seseorang tercebur dalam sebuah kubangan lumpur hidup. Ketika seseorang tercebur ke dalam lumpur hidup, maka orang itu tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Cepat atau lambat orang itu pasti tenggelam. Semakin kuat berusaha untuk keluar, maka akan semakin cepat dia tersedot ke dasar kubangan. Yang dapat dia lakukan hanyalah berharap semoga ada orang lewat untuk menolongnya. Jika kebetulan ada seorang pertapa berada di tepi kubangan dan kemudian mulai memberi wejangan: “Hai, sobat...engkau bisa keluar dari kubangan itu jika engkau berhasil meniadakan dirimu sendiri dan mampu mengalahkan keinginan jahat dalam dirimu....” Lalu seorang agamawan lewat pula dan mulai berkhotbah: “Kawan...engkau bisa keluar dari kubangan itu jika engkau mentaati aturan-aturan agama...berbuat baik, bersabar dan berdoalah kawan. Ingatlah Tuhan senantiasa....” Kemudian ahli filsafat lewat pula dan mulai berfilsafat: “Moralitas yang baik akan melepaskan engkau dari lumpur hidup itu, teman...” Apakah wejangan-wejangan orang-orang tersebut bisa melepaskannya dari kubangan lumpur hidup tersebut? TIDAK BISA!!! Sayang, banyak orang menyampaikan harapan kosong seperti ilustrasi di atas kepada manusia yang sudah jatuh dalam kubangan dosa.

Dari perspektif Allah, semua orang tanpa terkecuali, sudah jatuh ke dalam kubangan lumpur dosa (Rom. 3:23). Bagaimana mungkin orang bernasib sama, yaitu sama-sama berada di dalam lumpur dosa, bisa menyelamatkan orang berdosa lain? Mustahil! Hanya figur tidak berdosalah yang mampu menyelamatkan orang berdosa. Tetapi, adakah manusia yang menyatakan dirinya tidak berdosa? Tidak ada, kecuali Yesus Kristus. Firman Tuhan: “Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku? (Yoh. 8;46). Dengan tegas Petrus berkata: “Ia (Yesus) tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya” (1 Pet. 2:22). Penulis kitab Ibrani juga mengatakan: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia (Yesus) telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibr. 4:15).

Oleh sebab itu Alkitab mengatakan: “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka" (Mat. 1:21). Ayat ini dengan jelas mengatakan Yesuslah yang menyelamatkan umat-Nya. Itu berarti Yesus adalah Juruselamat! Ada perbedaan yang sangat mencolok antara Penyelamat dan orang yang memberitakan jalan keselamatan. Banyak nabi yang pernah lahir dan melayani di Israel, tetapi tidak seorang pun di antara mereka disebut sebagai juruselamat. Mereka hanyalah penunjuk jalan keselamatan, bukan juruselamat! Nabi-nabi itu sudah mati. Hal itu menunjukkan keterbatasan dan ketidaksempurnaan mereka. Tetapi seorang juruselamat tidak dikuasai kematian dan bahkan mengalahkan kematian itu. Dan juruselamat itu adalah Yesus Kristus. Dialah yang telah menaklukkan kematian dan memberi kehidupan. Orang-orang yang sudah mati dan masih berada dalam kuburnya mustahil memberi kehidupan, oleh sebab itu TIDAK LAYAK menjadi Juruselamat.

Jadi, hanya Yesuslah yang boleh berada di sekitar “lumpur hidup” dosa dan semua orang sedang berada di dalam kubangan dosa tersebut. Dialah satu-satunya figur yang tidak tercebur ke dalam kubangan dosa. Dia tidak sekedar memberi wejangan, ajaran agama, filsafat, moralitas, etika dan sebagainya. Sebaliknya Dia telah bertindak dan melakukan aksi penyelamatan melalui karya-Nya di kayu salib. Dosa tidak bisa diselesaikan dengan retorika. Dosa menuntut pembayaran ril. Jika ada orang berfikir dosa bisa diampuni hanya dengan berkata-kata saja, jelas hal itu omong kosong! Dosa tidak mungkin terhapus begitu saja. Dosa tidak bisa dihilangkan dengan timbunan perbuatan baik dan amal. DOSA HARUS DIBAYAR! Pembayaran yang paling impas untuk dosa adalah dengan membayarkan nyawa orang berdosa itu sendiri di dalam neraka kekal.

Tidak ada orang berdosa mampu membayarkan nyawanya bagi orang berdosa lainnya. Mengorbankan nyawa sendiri di dalam neraka hanya pas untuk membayar dosa diri sendiri. Jadi jangan harapkan ada orang lain yang mau membayar dosa Anda dengan mengorbankan nyawanya ganti nyawa Anda di neraka. Tetapi Yesus Kristus telah melakukan hal itu. Yesus mati bukan untuk membayar dosa-Nya. Bukankah Dia tidak berdosa sama sekali? Tidak ada utang dosa-Nya yang harus Dia bayar. Justru Dia mati di kayu salib untuk membayar utang dosa manusia. Dengan kematian-Nya, dosa manusia diampuni. Tetapi hanya orang yang percaya kepada-Nya saja dosa-dosanya ditanggung oleh Yesus Kristus. Sedangkan orang yang tidak percaya, dosanya tetap ada. Dengan beriman kepada Yesus, semua orang berdosa yang dinyatakan bersalah dan divonis dengan “pidana mati” dalam pengadilan sorgawi, dinyatakan benar dan dilepaskan dari tuntutan pidana mati (bahasa hukum: onslag). Oleh Yesus yang berkorban di kayu salib maka dosa dan kesalahan setiap orang yang percaya kepada-Nya, diampuni dan dinyatakan benar!

WARNING

Rom. 4:6-8:
Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:"Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya." (to be continued...)

“DOSA DALAM SKENARIO (6)”

“DOSA DALAM SKENARIO (6)”
Dalam dunia peradilan, seorang yang kedapatan telah melakukan kejahatan, misalnya membunuh, tidak boleh dihakimi tanpa sebuah proses peradilan yang sah. Meskipun secara kasat mata atau tertangtakap tangan seseorang telah melakukan kejahatan, namun tidak ada satu kekuatan di luar pengadilan yang berhak menyatakannya bersalah sehingga dijatuhi pidana. Jika ada orang atau lembaga di luar lembaga peradilan yang sah melakukan hal itu, maka tindakan itu disebut “main hakim sendiri” (eigenrichting). Tindakan main hakim sendiri adalah ilegal. Yang berhak menyatakan orang itu bersalah dan dijatuhi dipidana adalah pengadilan melalui sebuah proses hukum yang sah dan fair.

Sebuah putusan pengadilan bisa berupa:

Pertama, bebas dari segala tuntutan (vrijpraak). Putusan bebas dijatuhkan kepada seseorang yang tidak terbukti kesalahannya. Tidak ada satu bukti pun yang menyatakannya bersalah. Dengan demikian orang itu bebas. Kedua, lepas dari segala tuntutan (onslaag). Putusan ini dijatuhkan kepada orang yang terbukti bersalah, tetapi karena adanya alasan pembenar, maka orang itu dinyatakan benar sehingga dilepas dari tuntuntan. Ketiga, dijatuhi pidana karena orang itu terbukti bersalah dan tidak ada alasan pembenar.

Istilah “benar atau salah” begitu sangat dikenal dalam dunia peradilan. Memang, istilah “benar dan salah” adalah istilah dalam dunia peradilan. Ketika Paulus menuliskan : "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak” (Roma 3:10), itu berarti oleh peradilan Tuhan manusia dinyatakan bersalah karena telah berdosa (Rom. 3:23) dan divonis: PIDANA KEMATIAN KEKAL! Bukti paling nyata dari pidana ini adalah manusia pasti MATI. Cepat atau lambat manusia PASTI MATI, dengan cara atau eksekusi yang berbeda-beda satu sama lain. Kematian kekal bukanlah sekedar mati secara jasmani, tetapi lebih dari itu, mati secara rohani. Kematian kekal artinya binasa (Ingg: perish) karena dijauhkan dari hadirat Tuhan. Penghukuman yang paling mengerikan sebenarnya adalah ketika orang berdosa dijauhkan dari hadirat Allah. Tidak seorang pun mampu menanggung kehidupan tanpa kehadiran Allah. Dan tempat terjauh dari hadirat Allah adalah NERAKA (HADES)! Sebuah penghukuman yang tidak berbatas!

Banyak orang berpendapat bahwa kematian kekal hanya sebuah cerita mithos atau dongeng. Di samping itu banyak juga orang percaya neraka itu benar-benar ada tetapi tidak terlalu penting dibicarakan sekarang. Bagi mereka neraka adalah urusan nanti. Ada juga yang menanggapi neraka dengan biasa-biasa saja dan tidak perlu ditakutkan. Bagi mereka neraka itu antara ada dan tiada. Mereka berspekulasi karena tidak mengerti kebenaran. Mereka tidak memiliki referensi kebenaran untuk dijadikan pegangan. Bagaimana firman Tuhan, sebagai referensi kebenaran mutlak, berbicara tentang penghukuman kekal ini?

Alkitab dengan jelas mengatakan neraka itu adalah sebuah realitas. Di dunia ini tidak ada satu pun referensi yang lebih benar, jelas dan sempurna berbicara tentang neraka lebih dari pada Alkitab. Dengan tegas Yesus mengatakan: “Semuanya (orang berdosa) akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah (neraka) akan terdapat ratapan dan kertakan gigi” (Mat. 13:42, 24:51), Yesus berkuasa mencampakkan orang ke dalam neraka (Mat. 10:28); secara metafor, neraka berisi ulat-ulat bangkai yang tidak bisa mati dan api yang tak pernah padam (9:48). Ada banyak informasi dalam Alkitab mengenai neraka. Kesimpulannya, neraka bermakna penghukuman yang paling mengerikan dan sulit dibahasakan. Di sana tidak ada lagi waktu, oleh sebab itu neraka bersifat kekal. Baik peradilan dunia maupun akhirat, selalu ada “sanksi pidana” yang menyertai. Neraka adalah REALITAS!

WARNING
Mat. 13:41-42:
Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi (to be continued...)

“DOSA DALAM SKENARIO (5)”

“DOSA DALAM SKENARIO (5)”
Pada tulisan yang lalu telah dijelaskan kegagalan manusia memenuhi tuntutan hukum Taurat. Dengan kata lain, tidak ada seorang pun yang mampu menuruti aturan-aturan agama. Hal itu disebabkan adanya kesenjangan yang sedemikian lebar dan dalam antara manusia berdosa dengan peraturan hukum agama tersebut. Manusia tidak mempunyai kapasitas dan kualitas yang memadai untuk menuruti ajaran-ajaran agama yang sedemikian tinggi. Sekali lagi, “Manusia bak burung Pungguk yang merindukan bulan.” Jika manusia tidak mampu menuruti aturan-aturan agama, maka manusialah yang tidak punya kesanggupan untuk taat. Lalu, jika demikian, apa faedahnya menjadi orang yang mengaku beragama jika tidak mampu taat? Bukankah manusia berarti munafik saja dan ajaran-ajaran agama itu hanya menjadi pajangan saja? Yang paling menyedihkan agama kerap dijadikan “alat” legitimasi untuk melakukan kejahatan dan kekerasan.

Alkitab membuktikan bahwa agama sering dijadikan sebagai “sarana” atau “alat” untuk berbuat jahat, kekerasan dan konspirasi jahat. Atas nama agama dan kedudukannya yang tinggi dalam struktur agama maka Ananias, Imam Besar, melakukan kejahatan berupa kekerasan pisik kepada Paulus saat dia menyampaikan pembelaannya di depan Mahkamah Agama. Perhatikan firman Tuhan ini: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah." Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus” (Kis. 23:1-2). Bukankah hal itu sebuah kejahatan yang dilakukan melalui agama? Kejahatan lain yang lebih mengerikan adalah berupa konspirasi jahat untuk membunuh Paulus yang dilakukan para agamawan, petinggi-petingginya dan para pengikutnya (Bacalah Kisah Para Rasul Pasal 23:12-35).

Pada masa kini kejahatan dan kekerasan agama kerap terjadi di seluruh dunia. Konflik agama menjadi sumber pertikaian yang paling utama antar pemeluk agama. Padahal telah disepakati bahwa tidak ada satupun agama yang mengajarkan kejahatan. Semua agama mengajarkan kasih sayang. Tetapi mengapa tetap saja konflik sangat sering terjadi? Fakta ini membuktikan bahwa manusia tidak punya kualitas, kapasitas dan kemampuan untuk melakukan ajaran-ajaran agama tersebut. Bukan saja tidak taat, tetapi mereka juga menggunakan agama untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Agama dijadikan untuk kepentingan politik praktis, melakukan hegemoni terhadap pemeluk agama lain, memperkaya diri sendiri dan lain sebagainya.

Manusia harus sadar bahwa apa yang diajarkan oleh agama bukanlah hal-hal yang jahat dan rendahan, tetapi mulia, kudus dan bernilai. Jika tidak, manusia pasti hidup sembarangan saja. Apa ukuran kemuliaan dan kekudusan itu? Ukurannya adalah kemuliaan dan kekudusan Tuhan sendiri. Bukankah ajaran-ajaran agama itu diyakini berasal dari Tuhan? Oleh sebab itu Tuhanlah yang berhak menentukan takaran atau ukuran kekudusan dari ajaran-ajaran sebuah agama sedangkan manusia tidak berhak, kecuali agama itu buatan manusia. Manusia hanya punya kewajiban untuk mentaati semua aturan yang telah ditetapkan Tuhan. Dan ukuran kekudusan Tuhan tercermin dalam sepuluh perintah Tuhan atau hukum Taurat. Kurang dari kekudusan hukum Taurat, maka ajaran agama itu hanya ajaran manusia, bukan ajaran Tuhan.

Hukum Taurat adalah cerminan ukuran dan standar kekudusan dan kesucian Tuhan. Tidak terbayangkan, betapa tinggi standar kekudusan Allah yang harus dilakukan oleh manusia. Salah satu ajaran hukum Taurat adalah: “Jangan berzinah” (Kel. 20:14). Makna berzinah bukan sekedar melakukan hubungan seksualdengan lawan jenisnya secara ilegal, namun diperdalam menjadi menginginkan seorang wanita yang bukan isterinya secara seksual dalam hati dan pikiran adalah zinah. Menginginkan lawan jenis dalam pikiran adalah zinah! (Mat. 5:28). Berzinah secara jasmani dan dalam pikran adalah dosa! Dengan demikian tuntutan hukum Taurat ini sangat tinggi tak berbatas. Mungkin saja seseorang tidak berzinah secara jasmani, tetapi apakah ada orang yang berani berkata dan mengaku dirinya tidak pernah berzinah secara pikiran? Demikianlah dosa sudah merusak manusia secara mendasar.

WARNING
Rom. 2:23
Engkau bermegah atas hukum Taurat, mengapa engkau sendiri menghina Allah dengan melanggar hukum Taurat itu? (to be continued...)

“DOSA DALAM SKENARIO (4)”

“DOSA DALAM SKENARIO (4)”
Dari perspektif kebenaran, Alkitab menjelaskan bahwa seluruh umat manusia dikelompokkan atas dua bagian. Pertama; bangsa Israel dan kedua; bangsa-bangsa yang dipresentasikan oleh bangsa Yunani atau orang “Yunani.” Bangsa Israel menjadi satu-satunya bangsa yang mengenal Tuhan karena hanya kepada bangsa itulah diberikan hukum Taurat. Sedangkan bangsa Yunani sebagai representasi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan, tidak memiliki dan tidak hidup menurut hukum tersebut melainkan berdasarkan hukum hati nurani.

Sebagai bangsa yang mempunyai hukum-hukum Tuhan, seharusnya bangsa Israel bisa menjadi pelopor dan pionir bagi Tuhan untuk membuat bangsa-bangsa asing mengenal Allah. Ternyata mereka gagal. Mereka tidak menuruti dan bahkan menjadi pelanggar hukum Taurat. Meskipun mereka mampu menjabarkan sepuluh perintah Tuhan menjadi 613 peraturan, namun tidak satupun dari peraturan itu mampu mereka lakukan secara benar. Mereka menjadi bangsa yang sangat legalistis dan sombong. Mereka pikir, semakin banyak peraturan yang dibuat, maka semakin rohani kehidupan. Padahal kenyataannya, semua peraturan yang mereka buat, dilanggar seenaknya.

Mengapa bangsa itu gagal mentaati Allah? Jawabnya karena dosa! Dosa yang menjadi sifat dasar dan hakekat semua manusia, termasuk orang Israel, mustahil membuat manusia mampu melakukan dan memenuhi tuntutan hukum Taurat yang sifatnya kudus. Hukum Taurat itu kudus dan benar, tetapi manusia terjual di bawah dosa. Maka, jelas manusia berdosa mustahil mampu mentaati dan melakukan hukum Taurat. Orang Israel “Bak burung pungguk merindukan bulan” atau “Ingin hati memeluk gunung, manalah mungkin tangan tak sampai.” Sedangkan bangsa-bangsa hidup menurut hati nurani yang sudah cemar dan tumpul sehingga terjebak dalam kekafiran dan penyembahan berhala yang terlarang.

Asumsikan agama dan seluruh ajarannya adalah baik dan benar. Orang berkata: “Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kejahatan, melainkan kebaikan.” Tetapi masalahnya terletak bukan pada ajaran-ajaran agama yang kudus dan luhur, melainkan pada diri manusia itu sendiri. Manusialah yang tidak punya kemampuan, kapasitas dan kualitas yang memadai untuk mentaati semua tuntutan agama. Manusia bagaikan “burung pungguk” bagi semua ajaran agama. Setiap penganut agama yang jujur pasti mengakui kebenaran ini dan akan berkata: ”Saya tidak sanggup. Saya menyerah!” Seraya mengangkat tangan setuju dengan saya akan berkata: “There must be something wrong in human being.” Dan sesuatu yang salah itu adalah: DOSA!

WARNING
Rom. 3:9-18:
Jadi bagaimana? Adakah kita (orang Yahudi) mempunyai kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa, seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah. Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, dan jalan damai tidak mereka kenal; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu." Bukankah semua tuduhan ini terindikasi dalam diri dan hidup manusia? (to be continued...)

“DOSA DALAM SKENARIO (3)”

“DOSA DALAM SKENARIO (3)”
Tragedi terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah adalah kejatuhan manusia pertama Adam dan Hawa ke dalam dosa. Hal itu terjadi karena ciptaan Tuhan pertama itu lebih memilih dan mengikuti keinginan Iblis yang dipresentasikan oleh sosok ular yang menggoda mereka untuk memakan buah terlarang, dari pada menuruti apa yang telah difirmankan-Nya. Konsekuensi logis dari kejatuhan itu adalah jatunya vonis Tuhan: “Kehidupan manusia yang diciptakan sesuai gambar Allah (Imago Deo). Melalui “nafas Allah” yang dihembuskan kepada seonggok tanah ciptaan itu menjadi hidup. Namun gambar Allah hilang karena dosa dan dan ciptaan Allah pertama akan kembali menjadi tanah. Konsekuensinya seluruh keturunannya menjadi rusak. Tidak ada satu pun sejarah, cerita, tulisan, mitologi, legenda atau apapun yang disebut sebagai praduga pemikiran dan spekulasi manusia yang mampu menjelaskan tentang asal usul dosa selain Alkitab.

Setelah cerita tragedi kejatuhan Adam ke dalam dosa, maka drama dosa dalam sikap atau perbuatan jahat pun mulai dituliskan. Di awali dengan Kain membunuh adiknya Habel karena KEMARAHAN (Kej. 4), Lamekh yang membunuh seseorang karena DENDAM (Kej. 4:23-24), kecenderungan jahat manusia yang diakhiri dengan penghukuman Air Bah (Kej. 6), peristiwa pembangunan menara Bebel sebagai wujud dosa KESOMBONGAN (Kej. 11) adalah bukti-bukti otentik dosa sebagai perbuatan jahat manusia. Dengan demikian dosa dalam arti esensi (hakekat) berkelanjutan ke dalam dosa dalam perbuatan dan tindakan jahat.

Tragedi besar memilukan belum usai. Fakta kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak diikuti dengan penyesalan yang amat sangat. Jika Adam dan Hawa menyadari dirinya telah berdosa dan dengan kesatria mengakui dan mengambil tanggung jawab secara gentlemen, maka cerita mungkin akan lain. Tetapi yang terjadi adalah manusia pertama itu tidak mau disalahkan. Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan si Ular. Mereka berdalih-dalih dan sibuk melemparkan tanggungjawab kepada pasangannya. Jika upaya mencari kesalahan terus dilanjutkan, itu berarti Tuhanlah pada akhirnya yang bersalah. Bukankah itu tragedi? Tragedi yang melahirkan tragedi-tragedi lain? Sikap merasa diri benar dan orang lain bersalah adalah salah satu sifat dosa yang sangat dominan. Hal itu terus berlanjut dan nyata terlihat dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Orang yang tidak insyaf dirinya berdosa sama saja artinya mengatakan Tuhanlah yang berdosa. Bukankah banyak orang berfikir dan menuduh bahwa Tuhanlah yang menjadi penyebab dosa dengan dalih mengapa Dia menciptakan ular dan membiarkan ular itu mengggoda Adam jatuh dalam dosa? Adam menuduh isterinya berdosa supaya dirinya terlihat benar. Demikian juga dengan Hawa yang menuduh Ular. Mereka sengaja tidak mau mengaku dosa karena merasa dirinya benar. Semua orang yang berpikir bahwa dirinya BENAR dan TIDAK BERDOSA, pasti tidak mau MENGAKU DOSA dan orang-orang demikian PASTI tidak butuh PENGAMPUNAN. Padahal tanpa PENGAMPUNAN tidak ada KESELAMATAN!

WARNING
Roma 5:12:
“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (to be continued...)

“DOSA DALAM SKENARIO (2)”

“DOSA DALAM SKENARIO (2)”
Banyak orang mendefinisikan dosa sebagai sikap atau perbuatan jahat yang wujudnya sangat beragam. Membunuh, menipu, korupsi, merampok dan lain sebagainya diartikan sebagai dosa. Benarkah demikian? Manusia cenderung memahami sesuatu berdasarkan kekuatan pikirannya sendiri dan pengalaman. Pemahaman manusia berdasarkan pikirannya telah memaknai dosa secara kurang tepat dan benar. Dalam hikmatnya manusia menganggap dosa sebagai perbuatan jahat. Tetapi berapa banyak orang mengerti dosa secara esensi atau hakekat? Sejatinya pengertian dosa tidak bersumber dari pemahaman dan pengalaman manusia, melainkan berdasarkan kebenaran mutlak dan kebenaran mutlak itu hanya dimiliki oleh Tuhan semata. Jadi untuk memahami dosa secara tepat dan benar, maka manusia harus mencarinya dari apa yang dikatakan Tuhan.

Dosa secara esensial bermakna KETERPISAHAN yang diprakarsai oleh Adam dan telah mencemari seluruh manusia sebagai keturunannya. Alkitab, firman Tuhan, sudah mencatatkan itu. Manusia berdosa TERPISAH secara mutlak dari Tuhan. Tidak ada kemampuan dan daya upaya manusia untuk meniadakan keterpisahan itu. Agama, moralitas, etika dan perbuatan baik mustahil mampu mendekati dan menjangkau Tuhan. Bukankah Tuhan itu Mahakudus dan dosa adalah kecemaran dan kenajisan absolut? Bagaimana mungkin manusia berdosa dan najis bisa menjangkau Allah yang Mahakudus? Untuk bisa menjangkau Allah manusia harus kudus secara mutlak. Bahkan kekudusan manusia yang telah mencapai 99,9999% pun, mustahil dapat mendekati dan menjangkau Tuhan. Tuhan hanya menerima kekudusan yang mutlak. Siapakah dia antara manusia mempunyai kekudusan mutlak atau berani mengaku mencapai tingkat persentasi setinggi itu?

Keterpisahan mempunyai konsekuensi-konsekuensi tertentu. Konsekuensi yang paling mengerikan dari keterpisahan itu adalah semua manusia berdosa pasti mengalami KEMATIAN KEKAL atau MAUT. Neraka adalah tempat yang paling layak bagi semua orang berdosa. Orang yang memahami kebenaran ini mestinya tertegun, frustrasi, dan mengalami ketakutan yang amat sangat karena menginsyafi dirinya orang berdosa dan berkata: "Apa yang harus kuperbuat supaya selamat?" Penghakiman Tuhan atas manusia berdosa pasti terjadi.

WARNING
Roma 3:23:
"UPAH DOSA ADALAH MAUT/KEMATIAN KEKAL" (to be continued...).

Sunday, November 17, 2013

"DOSA DALAM SKENARIO (I)"

"DOSA DALAM SKENARIO (I)"
Dalam tingkat tertentu sifat dan perbuatan dosa mampu memberi kenikmatan dan kesenangan tetapi sifatnya semu. Hati yang tidak insyaf akan terus berburu kenikmatan itu. Tetapi hati yang insyaf merupakan sarana menuju keselamatan sejati.

WARNING
Yak. 1:13-15:
"Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut" (to be continued...)

"PENGHUKUMAN KEKAL. APA ITU?"

"PENGHUKUMAN KEKAL. APA ITU?"
Satu-satunya khabar yang disebut baik secara mutlak di sorga dan di bumi adalah berita Injil. Injil adalah seluruh karya Yesus selama Dia berada di bumi ini yang berpuncak pada kematian dan kebangkitan-Nya. Kematian-Nya menjadi satu-satunya cara untuk meyelesaikan masalah dosa. Sedangkan dosa merupakan kondisi yang membuat manusia terpisah dari Allah. Konsekuensinya ialah kebinasaan atau kematian kekal sebagai penghukuman yang harus diterima semua orang berdosa (Rom. 6:23). Jadi problem dosa dan akibatnya bukanlah ecek-ecek tetapi masalah yang paling serius di kolong langit. Sedihnya, tidak seorang pun manusia mampu mengatasi dosa itu.

Sedahsyat apakah penghukuman yang pasti diterima orang berdosa? Banyak orang berusaha menjawab baik secara bercanda maupun serius. Bahkan tidak sedikit orang yang tidak mempercayai realitas neraka sebagai tempat penghukuman kekal. Mereka yang tidak perduli kehidupan kekekalan, sambil bercanda mereka berkata: "Ah...tidak ada neraka. Kalaupun ada, di sana banyak artis cantik dan tampan yang bisa menghibur..." Ada pula yang berkata: "Neraka memang ada, tetapi orang yang masuk ke dalamnya masih diberi kesempatan untuk keluar bila masa penghukuman sudah berakhir..." Ada banyak pendapat, tetapi tidak satupun pendapat manusia itu layak dipercaya dan dijadikan pegangan. Pemahaman manusia akan neraka dan penghukuman sangat minim dan kebanyakan sifatnya mitos dan jauh dari kebenaran. Dengan demikian mereka sedang menjudikan keselamatan dan dalam perjudian itu manusia pasti kalah!

Hati-hatilah terhadap pemahaman Anda. Mempercayai dan mengikuti pemahaman yang salah tentang penghukuman dan neraka, beresiko sangat berat dan dahsyat. Tidak akan pernah ada kesempatan kedua. Dalam kekekalan tidak ada lagi detik-detik waktu. Oleh sebab itu Anda dan saya perlu memahami tentang neraka dan penghukuman menurut kebenaran. Satu-satunya kebenaran yang memberi penjelasan tentang neraka dan penghukuman adalah Alkitab (bersambung...).

Thursday, April 28, 2011

YESUS TUHAN YANG MENGURAPI (17/04/2011)

1 Samuel 10:1, 6, 10-12

 Saul diurapi oleh Tuhan melalui nabi Samuel
 Saul memiliki keberanian
 Saul mengalahkan musuh-musuhnya
 Saul menjadi manusia lain
 Saul kepenuhan roh seperti nabi-nabi
 Saya perlu diurapi TUHAN!
 Urapan Tuhan harus saya JAGA!

Saul tidak menjaga urapan TUHAN
 Saul diurapi TUHAN (1 Samuel 15:1)
 Saul tidak TAAT (1 Samuel 15:11)
 Roh TUHAN telah undur dari Saul (1 Samuel 16:14)
 Saul diganggu roh jahat
 Keberanian Saul hilang

Daud diurapi TUHAN
 DASAR dari urapan TUJAN adalah HATI
 Daud mengalahkan Goliath (1 Samuel 17)
 Mazmur 20:7
 “TUHAN member kemenangan kepada orang yang diurapi-Nya.”
 YESAYA 61:1-3; LUKAS 4:18-19

Nubuat nabi Yesaya -> hadirnya “Mesisas” yang akan menjadi terang, pembebas dan penyelamat manusia.
Nubuat ini digenapi oleh Yesus Kristus (lesous {ee-ay-sooce})
Meaning Jesus = “Jehovah is salvation”
1) Joshua was the famous captain of the Israelites, Moses successor
2) Jesus, son of Eliezer, one of the ancestors of Christ
Christos {khris-tos’}
Meaning: Christ = “anointed”
1) Christ was the Messiah, the Son of God
2) Anointed

URAPAN TUHAN –JUBAH
Lukas 24:49 “Diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” clothed with power frm on high

TUHAN YESUS akan memberikan JUBAH (urapan) kepada para murid-Nya seperti yang sudah dijanjikan oleh BAPANYA.
Orang yang diurapi TUHAN:
1. Kaya Ide dan Hikmat
2. Memiliki Ketahanan untuk Menderita
3. Memiliki kehidupan yang berkualitas

MEMBUKA JALAN TERTUTUP (20/03/2011

(YESAYA 60:11-14)

1. Berdoa (Pray) baik itu minta jodoh, pekerjaan, Apa lagi? MINTALAH
2. Mengapa jalan tertutup? (Seringkali doa kita tidak dijawab Tuhan)
- Karena jalan kita bertentangan dengan jalan Tuhan
- Supaya tidak kesasar
- Supaya tidak jatuh lebih jauh
- Karena serangan iblis
-Tunduk kepada Allah
- Maju terus dan tetap bertahan (Roma 8:37)
- Karena Tuhan sedang melatih iman kita, supaya tetap bersandar pada Tuhan (Ayub)
3. Bagaimana kita dapat membuka pintu yang tertutup?
- Harus punya mimpi yang besar
-Setia dalam perkara kecil
-Tekun menantikan Tuhan dan pegang Mahkota
- Ada hikmat, kepandaian dan SABAR (Amsal 3:13-15
- Bertobatlah (Wahyu 3:5)

Wednesday, March 2, 2011

PEPERANGAN ROHANI (27/02/2011)

EFESUS 6:10-17

PENDAHULUAN
Dunia -> Tempat peperangan yang dahsyat secara rohani yang berdampak secara fisik. Dalam kekristenan disebut dengan PEPERANGAN ROHANI.
-> Semua bidang kehidupan adalah peperangan rohani. Jika kita tidak SADAR, maka kita tidak berperang. Jika kita berperang, maka kita PASTI diperangi oleh kekuatan-kekuatan iblis dan teman-temannya. (Eesus 6:12)
-> Kekuatan itu sangat terorganisasi (ada hirarki).
-> Semua prajurit iblis adalah roh-roh jahat yang terlatih dan hebat dalam peperangan.
-> Apakah kita sebagai jemaat menyadari adanya peperangan yang sangat dahsyat ini? Jika TIDAK maka kita pasti kalah.

Ada 2 persyaratan untuk dapat menang dalam peperangan rohani
1. Kita harus yakin berdasarkan firman Tuhan, bahwa iblis TELAH dikalahkan secara TOTAL ketika Yesus dipakukan di kayu salib (Kolose: 2:15)
2. Kita harus menggunakan perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:10-17).
Perlengkapan senjaata Allah ada 2:
- Senjata bertahan
- Senjata menyerang

Ilustrasi
Prajurit Romawi menggunakan:
1. Ikat pinggang -> kebenaran
2. Baju zirah -> keadilan
3. Kasut/sepatu -> memberitakan injil
4. Perisai -> iman
5. Ketopang -> keselamatan
6. Pedang -> roh

Perlengkapan Senjata Allah
1. Ikat pinggang kebenaran
Arti dan penggunaan:
Kejujuran, ketulusan hati, keterbukaan dan keterusterangan LAWANNYA: kemunafikan dan kepura-puraan.

2. Baju zirah keadilan
Arti dan penggunaan:
Rompi untuk melindungi HATI, hati menentukan nasib baik dan buruk (Amsal 4:23)
Penjelasan:
Keadilan, iman dan kasih (1 Tesalonika 5:8)

3. Kasut kerelaan untuk memberitakan injil Damai sejahtera
Arti dan penggunaan:
Seperti militer yang berguna untuk berjalan cepat dan jauh.
Kerelaan:
    a. Memahami Firman Tuhan
    b. Hafal ayat-ayat
    c. Mampu beritakan injil dengan jelas yang menghasilkan damai sejahtera.

4. Perisai iman
Arti dan penggunaan:
Seperti tampi yang bulat berguna untuk:
    a. Perlindungan seluruh tubuh, hati, pikiran, perasaan, tubuh, ekonomi dan keuangan dll
    b. Menangkis seluruh serangan iblis
    c. Melindungi keluarga dan jemaat dari serangan balik.

5. Ketopang keselamatan
Arti dan penggunaan:
Helm untuk melindungi kepala dari pikiran, dari benturan dan luka.
Melindungi pikiran dari depresi, stress, tuduhan-tuduhan iblis/orang, kata negatif.

6. Pedang Roh
Arti dan penggunaan:
1. Menangkis (Matius 4:11)
2. Menyerang (Ibrani 4:12, Wahyu 1:16)

Kesimpulan:
Untuk bisa menang dalam peperangan, kita harus menggunakan seluruh perlengkapan Senjata Allah baik untuk bertahan maupun menyerang secara lengkap.


Monday, February 28, 2011

BAGAIMANA CARA HIDUP KITA DIUBAH JADI TERANG, BERDAMPAK, DIBERKATI (06/02/2011)


Mazmur 1: 1-3
Pendahuluan
Kita tahu cerita tentang Yusuf ditengah-tengah tantangan dapat menjadi berkat.
Daniel, Sadrrak Mesakh dan Abednego hidup mereka berdampak bagi orang lain juga bagi
bangsa dan negara. Walaupun tantangan banyak inereka berpegartg pada imannya dan tetap menyatakan kebenaran. Saat ini sudah waktunya gereja Tuhan bangkit, punya sasaran, berubah masuk dalam pergerakan-pergerakan Roh Allah, masuk dalam isi hati Tuhan dan menyatakan kehendak Tuhan,
Bagaimaima cara hidup kita diubah, jadi terang, berdampak, diberkati (bukan hanya uang) jadi terberkati karena kita lebih dahulu diberkati.
Langkah yaitu dengan merenungkan firman itu siang dan malam. Contoh ada 2 pohon yang ditanam bersamaan, yang satu setiap hari disiram, yang kedua setiap 2 hari baru disiram, beberapa waktu kemudian mereka dicabut oleh yang menanamnya, Dan yang terjadi adalah pohon yang pertama yang setiap hari disiram, mencabutnya membutuhkan 20 menit karena berakar tapi yang kedua sangat cepat tercabut, tidak membutuhkan waktu yang Jama.
Hal ini adalah gambaran orang yang merenungkan firman Tuhan yang punya akar yang kuat, fondasi yang kokoh tidak akan mudah goyah, putus asa menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Apa sebab,merenungkan firman Tuhan hidup kita diberkati:
1.   Ada kuasa finnan yang rnerubah kita (jika kita merenungkan firman)
Firman Allah hams jadi dasar hidup kita sehari-hari, bukan semingggu sekali. Sehinga pola hidup kita dibangun oleh firman Tuhan, sehingga ketika ada tantangan, hinaaa, cemohan. tidak ada jalan keluar, yang keluar atau yang jadi jawaban adalah apa yang jadi dasar hidup kita "seharl-hari, " firman (fondasi yang kuat) akan menjawab segala  tantangan.
2.   Firman jadikan makanan dalam hidup kita sehari-hari (matius 4:4) (manusia hidup bukan dari roti saja….)
Jadikan firman menjadi makanan roh kita sehari-hari. Jika tubuh, jiwa dan roh diberi makan maka hidup kita akan seimbang, sehingga dengan tubuh, jiwa dan roh yang sehat maka jawaban masalah akan ditemukan.
3.   Roma 10:17 iman timbul dari pendengaran firman Tuhan, jadikan firman raenbangun iman kita, dalam tantangan apapun iman itu sangat menentukan, saat tidak punya apa-apa, adanya tantangan diperlukan iman
Kitapun bisa melayani karena iman dan iman itu dibangun dari firman. Setiap hari iman itu harus dan akan terbangun jika kita mendengarkan firman Tuhan.
4.   Firman harus jadi acuan dalam berbicara sehari-hari
1 Petrus 4:1la jika ada orang yang berbicara......... berbicara menyampaikan firman Tuhan,
walaupun tidak menyebutksn ayat-ayatnya tetapi kebenaran-kebenaran firman yang harus disampaikan kepada siapapun. Hidup yang berdampak bagi orang lain disebabkan karena dalam hati kita telah berakar terlebih dahulu firman itu, bukan instan artinya hanya ketika ada masalah baru kita mau membaca firman. Membaca dan merenungkan firman harus dilakukan setiap hari, setiap saat dalam hidup kita. Dan firman yang ada yang menyatu dalam hidup kita itulah yang jadi patokan, pedoman untuk kita berkata-kata. Dalam firman ada kehidupan, ada Roh Allah.

5. Yakobus 1:22, tetapi jadi pelaku firman bukan hanya pendengar saja. Firman itu bekerja jika kita jadi pelaku. Firman itu jadi perilaku kita sehari-hari, apapun yang kita perbuat, tantangan yang kita terima, firmanlah yang jadi rema, yang menghentikan kita apabila kita menyimpang.

6. (Mazmur 119: 105) Firman itu jadi pelita bagi kakiku dan suluh pada jalanku. Jadikan friman itu sebagai jalan keluar kita sehari-hari. Ketika masalah datang otomatis firman itu. Karena sudah merenungkan firman itu sehari-hari.
7. (Mazmur 1:1-3) Orang berbahagia.
(la) tidak berjalan atas pengaruh orang yang tidak mengenal firman
(lb) tidak bisa dipcngaruhi
(2-3) firman akan menjadikan kita ditengah tantangan, tidak mudah layu, tidak gugur, tidak
putus asa. Justru karena ada Firman maka KITA BERBUAH UNTUK Tuhan, untuk orang lain, buah menentukan nilai hidup kita. Firman itu bekerja ditentukan dari bagaimana
merenungkan firman Tuhan sehingga kita berhasil artinya Firman bekerja ditengah masalah, tantangan.
8. (Yohanes 3:16) Karena begitu besar kasih Allah......
Jika kita percaya, pegang firmanNya, jika kita tahu Tuhan itu mengasihi oleh karena dalam firmanNya ada kuasa, kasih , mujizat. Tidak ada seorangpun yang dapat membatasi semua unsur, agama, organisasi, tidak ada satupun yang bisa menbatasi kuasa firman. la sudah membayar dengan kematianNya, sehingga tidak ada suatu kuasa yang dapat membatasi kasih Tuhan itu. Mujizatnya tidak bisa dibatasi oleh apapun itulah yang menberi kekuatan.
9. Firman itu ada mujizat
Kehendak Tuhan adalah sehat, kesembuhan. Seluruh kehendak Tuhan adalah dalam firmanNya jika fiman diucapkan akan ada kuasa karena itu adalah perkataan firman. Untuk itu renungkanlah firman, stok firman harus ada.
10. (Yohanes 16:13) Roh kebenaran...... akan memberitahukan hal-hal yang akan datang.
Merenungkan firman tanpa Roh kudus tidak akan berhasil karena roh kuduslah yang memberi pengertian pada kita. Roh kudus adalah jaminan kita. Murid-murid Yesus orang sederhana, tetapi, ketika mereka menerima Roh Kudus, hal-hal yang mustahil, luar biasa dapat mereka kerjakan

Monday, December 13, 2010

KUASA IMAN (28/11/2010)

Markus 11:22-24

Pendahuluan
• Ayat 23 pada pasal ini berbicara suatu yang mustahil yang menjadi tidak mustahil.
• Ada banyak orang kristen yang mencoba mengklaim firman ini terhadap masalah-masalah mereka, tetapi pada kenyataanya tidak terjadi apa-apa, sehingga mereka menyimpulkan ayat ini tidak mungkin terjadi pada hidupnya.
• Persoalaan ini tetap menumpuk dan menekan tanpa jalan keluar.
• Banyak yang mencoba mengklaim firman ini (ayat 23) "asal tidak bimbang hatinya" dengan mencoba menguat-nguatkan hati mereka tetapi tetap tidak terjadi apa2, tidak ada jawaban terhadap persoalan mereka, mengapa demikian. Inilah yang kita coba pelajari dengan cermat untuk mengerti apa sebenarnya, yang dimaksudkan Yesus dalam ayat ini.

Kunci Iman Yang Berkuasa


1. Dasar iman kita adalah  Allah bukan perasaan (ayat 22) (Ibrani 11:1)
Akan menjadi tidak mustahil apabila kita benar-benar percaya pada Allah, percaya kepada Allah berarti percaya pada firmanNya. Tidak ada dasar yang lain selain firman Tuhan.
Contoh: (Markus 11:2-4)
Yesus menyuruh murid-murid pergi kekampung untuk menemukan keledai, merekapun pergi. Secara pemikiran rnanusia, perintah ini patut dipertanyakan, karena juga Tuhan tidak punya kenalan disitu, tetapi muridnya tetap pergi, artinya ketika murid-muridnya pergi, berrarti mereka menanggapi perkataan kristus dan melakukannya tanpa membantah. Apa yang terjadi, mereka menemukan keledai itu. Perkataan Yesus mengandung Kuasa yang dahsyat, ketika Tuhan mengutuki pohon ara (ayat 14) dan hasilnya (ayat 21) pohon ara itu langsung kering. Hal inipun dapat terjadi.menjadi kenyataan pada kita jika kita merendahkan hati kita mendengarkan firman Tuhan, tidak mempertahankan pengalaman kita, pendapat kita. Karena kita hams tahu semua pengalaman dan pendapat kita masih bisa salah. Hanya perkataan firmanNya yang hams kita pegang, dan firmanNya menjadi jaminan bagi kita untuk memperoleh sesuatu bahkan untuk melakukan kehendak Allah.

2. "Baranqsiapa yanq percaya" (ayat 23)
Kata kunci Barangsiapa. Artinya siapapun yang percaya kepada Allah dan firmanNya akan dapat mengubah seluruh kemustahilan menjadi tidak mustahil (itulah rema)
Contoh : Saat Daud menghadapi raksasa Goliat, Daud tidak tinggal dalam kenyataan bahwa Goliat 3 kali lebih besar ukurannya darinya. Daud juga tidak tinggal dalam kenyataan bahwa Goliat adalah pejuang yang ahli dan Daud hanya seorang penggembala. la memilih memusatkan perhatiannya pada kebesaran Tuhan. Daud mengubah seturuh atmosfer melalui perkataan yang keluar dart mulutnya. (Lihat 1 samuel 17:45) Daud memandang Goliat tepat dimata dan dengan tekat besar, ia berkata "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta Allam, Allah segala barisan yang kau tantang itu. lntinva : Orang yanq percaya kepada Allah dan firmanNya akan memiliki kuasa perkataannya dan perbuatan."barangsiapa artinya kita semuapun dapat melakukan hal-hal yanq ajaib ketika kita benar-benar percaya dengan hati kepada Allah dan firmanNya.

3. "Tidak bimbang hatinya" (ayat 23)
Hati yang tidak bimbang berasal dari kekuatan/kuasa firman Allah yang menjadi rema dalam hati seseorang. Bukan berasal dari proses mental (meneguh-neguhkan atau menguat-nguatkan hati, mensugesti diri sendiri supaya kuat). Karena banyak orang Kristen yang mensugesti diri sendiri supaya hatinya kuat. Hal ini bukanlah kebenaran, bukan hal yang dikehendaki oleh Tuhan. Dan yang pasti Tidak akan tahan uji (akan kembali putus asa, kerajinan kembali kendor, menjadi kecewa, bermasa bodoh, persalahkan orang lain). Hati yang tidak bimbang bukan berasal dari sugesti tetapi keadaan seseorang karena hasil dari mendengarkan firman Tuhan (Roma 10:17) "iman timbul dari pendengaran, pendengaran firman Kristus.
Bagaimana cara supaya tidak bimbang?
1. bersekutu dengan Tuhan dengan benar, mencari wajahnya setiap hari.
2. Merenungkan firmanNya.
3. belajar melakukan firman Tuhan/belajar melakukan salah satunya artinya belajar mengucapkan kepada gunung-gunung masalah kita. Seperti Daud mengucapkan kata-kata yang keras kepada Goliat. la tidak hanya memikirkannya, ia tidak hanya mendoakannya, ia langsung mengucapkan kepada raksasa gunung didepannya.
"aku akan mengalahkan.. engkau dan memberikan dagingmu untuk makanan burung-burung diudara hari ini" Dan dengan pertolongan Tuhan ia melakukan tepat seperti, apa yang dikatakannya itu.
Jadi berhentilah kuatir akan hidup saudara, berhenti kuatir tentang kemiskinan, kekurangan, katakan dengan berdasarkan firman Tuhan dan hati yang  percaya "Tuhan menyediakan kebutuhanku berlimpah. 

Berhenti mengeluh tak satupun yang baik pada saudara mulailah mengatakan "segala sesuatu yang aku sentuh maju dan berhasil" 
Mujizat ada dalam mulut saudara, jika ingin mengubah dunia saudara, mulailah mengubah kata-kata saudara. 

Kesimpulan
(Markus 11:24), karena itu Aku berkata kepadamu, apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Wednesday, November 3, 2010

KASIH ALLAH BAPA (31/10/2010)

Lukas 15:11-24

Pendahuluan:
-> Perumpamaan anak hilang

- Pertanyaan-pertanyaan ini harus kita jawab:
1. Apa penyebab kegagalan dalam hidup kita?
2. Apakah kita tahu apa penyebabnya?
3. Apakah kita memiliki kemampuan untuk mengatasi? Atau apakah hidup
    kita tetap sama dan tidak mengalami perubahan yang lebih baik lagi?
4. Apakah kita rindu ingin keluar dari kegagalan tetapi kita tidak tahu
    caranya?

Kita akan melihat jalan keluar melalui Firman Tuhan hari ini.
Ada 3 prinsip yang harus kita pegang teguh dari perumpamaan ini.
I. Penyebab kegagalan
   1. Manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27-28). Dari
       Firman Tuhan ini kita mengetahui apa rencana Tuhan bagi kita.
   2. Tetapi dalam cerita ini si anak mengalami kegagalan dalam hidupnya
        ketika meninggalkan bapaknya (ayat 12-13).
   3. Berada di luar (terpisah) dengan Bapa. Keterpisahan dengan Allah
       Bapa inilah yang menjadi sumber berbagi kegagalan dalam hidup kita
       (ayat 13) seperti yang dilakukan si anak dalam perumpamaan ini.
Kesimpulan:
- Manusia yang meninggalkan Allah itulah yang disebut dosa yaitu: hidup
   menurut keinginan sendiri.

II. Akibat dosa
Roma 6:3 “Upah dosa adalah maut …”
Dosa menurut ayat ini memiliki pengertian:
1. Bangkrut secara keuangan (ayat 14)
2. Penderitaan (ayat 15)
3. Jati diri (gambar diri) rusak, malu, sakit hati, rendah diri, tak berharga,
    tertolak dan lain-lain.

III. Cara Pemulihan
Bertobat!!!
Langkah-langkah pertobatan:
1. Sadar
    a. Menyadari keadaan kita (ayat 17) “Lalu ia menyadari …”
    b. Menyadari keadaan Allah Bapa (ayat 17) “Betapa banyaknya orang
        upahan bapaku yang melimpah-limpah …”
2. Ada keputusan, pengakuan dan tindakan
    a. Keputusan “Aku akan bangkit …” (ayat 18)
    b. Pengakuan “Aku telah berdosa …” (ayat 18), lihat Mazmur 32:5
    c. Tindakan “Maka bangkitlah dia dan pergi kepada bapanya …”
        (ayat 20)
3. Kasih Bapa
    a. Kasih Bapa menunggu (ayat 20)
        Artinya Bapa sabar menunggu pertobatan kita.
        “Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya …” (ayat 20)
    b. Kasih Bapa mengampuni (ayat 20)
        “Lalu tergeraklah hatinya (Bapa) oleh belas kasihan …” (ayat 20)
    c. Kasih Bapa menerima (ayat 20)
        “Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium …”
    d. Kasih Bapa memulihkan (ayat 22)
        -> Kehidupan yang hancur dan gambar diri.
             Lihat Roma 13:12-14)
        -> Keluarga (Yohanes 1:12) kita diberi kuasa menjadi anak-anak
             Allah.
        -> Kuasa (ayat 22) “Kenakanlah cincin …”
             Lihat Lukas 10:19.
        -> Derajat (ayat 22) “Kenakanlah sepatu pada kakinya …”
             Lihat Roma 8:15.
        -> Sukacita (ayat 23) “Marilah kita makan dan bersukacita”
             Lihat 1 Tesalonika 5:16-18.

Kesimpulan:
1. Berhentilah melakukan yang salah
2. Dosa membawa kesukaran
3. Allah mau mengampuni
4. Pertobatan yang benar pasti membuahkan perubahan

Tuesday, November 2, 2010

KESEMPATAN EMAS (24/10/2010)

LUKAS 19:1-10

Pendahuluan
Hidup kita terkadang ada KESEMPATAN EMAS, tetapi kita ragu barena ada rasa takut, kemudian peluang itu hilang begitu saja.
Apakah Anda pemah mengalami peluang, seperti: tawaran berja, posisi tertentu, dan sebagainya tetapi hilang begitu saja karena kita tidak mengambil KESEMPATAN EMAS itu?
=> Melalui firman Tuhan hari ini kita sedang diberi kesempatan istimewa untuk bertemu dengan Yesus
=> Oleh barena itu kita harus memutuskan dalam hati supaya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu

Mari bita pelajari hal ini dalam cerita tentang Zakheus (Lukas 19:1-10)
1. Atasilah halangan untuk bertemu dengan Yesus Kristus (ayat 3)
Intinya: Setiap orang pasti ada halangan untuk datang kepada Yesus.
=> Halangan ada 2
a. Secara internal (dalam diri kita)
Misal: Luka bathin, sakit hati, rendah diri, tidak berharga, dan lain-lain.
b. Halangan external (dari luar)
Mis:al: Perkataan orang lain, situasi yg kurang baik, kemiskinan, dan sebagainya.

2. Iman mengatasi segala hambatnn (ayat 4)

Intinya: Kata kunci adalah IMAN.
IMAN itu ada wujudnya, tidak abstrak dan terlihat dari apa yang kita lakukan! (Yakubus 2:17)
Perhatikan Zakheus (ayat 4)
  1. Ia  berlari untuk mengatasi halangan eksternal (halangan luar)
  2. Ia memanjat untuk mengatasi halangan internal (halangan dalam diri sendiri)
Dengan iman Zakheus bisa mengatasi halangan-halanganya.

3. Kasih Yesus (ayat 5)
INTI: Yesus akan segera menyambut orang-orang melakukan seperti yang dilakukan oleh Zabheus.
Itulah KASIH ALLAH. (Wahyu 3:20)


4. Pertemuan dan perubahan (ayat 8)
INTINYA: Perubahan total akan terjadi saat kita bertemu dengan Yesus
Setelah betemu dengan Yesus Zabheus melakukan:
1. Memberi setengah dari hartanya
2. Mengembalikan 4x lipat apa yang sudah diambilnya.

5. Berkat Imanuel (ayat 9)
INTINYA: Terjadi keselamatan bagi mereka yang bertemu dengan Yesus Kristus.

REFLEKSI:
1. Apakah saudara butuh pertolongan Tuhan?
2. Apakah saudara memerlukan kelepasan dari ikatan?
3. Apakah ada dosa yang perlu diakui?

Monday, October 25, 2010

MANUSIA ALLAH (17/10/2010)

1 Timotius 6:11-21

Manusia Allah 
 Berasal dari Allah
 Lahir baru
    Yohanes 3:3,5
     Roma 6:6-11

 Manusia Adam
 Berasal dari Adam
 Jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah
 Di bawah murka (Roma 3:23)

Apa yang harus dilakukan oleh manusia Allah?
1. Memiliki prinsip yang jelas (ayat 11)
 Menjauhi yang tidak perlu, tidak berguna dan tidak memuliakan Tuhan: pertengkaran, fitnah, curiga, saling   melukai dll.
 Mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan lemah lembut.

Benih yang baru harus dilatih!!! Contoh: burung Rajawali
2. Memiliki kesiapan untuk bertanding secara iman
 Iman seperti biji sesawi: awalnya lemah, tetapi tumbuh jadi pohon yang kuat.
 Iman pertama sekali baru sekedar menyelamatkan, kemudian bertumbuh jadi.
 Iman yang diamalkan, untuk itu perlu dilatih.
 Iman itu berproses seperti emas yang diproses.
1 Petrus 1:7

3. Memiliki kerelaan untuk taat (ayat 4)
 Ketaatan juga harus dilatih!!! Tujuan akhir iman adalah ketaatan yang tidak bercela.

Ada 2 hal ketaatan:
1. Ketaatan secara mental
 Di dapat melalui berbagai pelatihan
 Pelatihan kepribadian, gerakan spiritual
 Mengali kecerdasan emosi dsb.

2. Ketaatan secara Firman Tuhan (1 Yohanes 5:3)
 Dasarnya adalah mengasihi Allah.
 Yang dilatih adalah supaya seseorang mengerti Firman Allah dan Firman itu menjadi kesadaran dan gaya hidup (lifestyle)
 Iman yang terlatih akan membawa kebahagiaan di bumi dan bahkan setelah Yesus dating yang kedua kali.

Kesimpulan:
Setiap orang percaya pada Yesus Kristus adalah manusia Allah. Tetapi apakah kita sebagai manusia Allah memiliki:
1. Memiliki prinsip yang jelas
2. Memiliki kesiapan untuk bertanding secara iman
3. Memiliki kerelaan untuk taat
Jika tidak akan menjadi manusia Allah yang gagal.

Thursday, October 14, 2010

KINGDOM PROTECTION (10/10/2010)

Mazmur 91 : Perlindungan Kerajaan
I. Kerajaan memiliki undang undang, peraturan. Kita adalah warga Kerajaan. Tuhan yang memberi perlindungan yang sempurna.
Empat nama dalam Mazmur 91:7
91:9 Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kau buat tempat perteduhanmu.
1. Elion Mazmur 91 : 9
2. Mazmur 91 : 1 : Shaddai
Allah yang sanggup memberikan perlindungan yang sempurna
91:1 Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan beimalam dalam naungan
Yang Mahakuasa
3. Mazmur 91:2 Yahwe : Anugerah demi Anugerah, Perlindungan yang Sempurna Mazmur 91:2 akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.
Karya di kayu salib (tangan terpaku, darah tercurah), yang mendatangkan Anugerah demi
Anugerah, mengubah kutuk menjadi berkat. Ini yang membuat janji Tuhan Ya dan Amin. Yang
dia minta dari kita adalah taat dan setia.
4. Ellohay : Mazmur 91:2: Perlindungan Yang Sempurna. Perisai atas hidup kita.
Yakub adalah anak Ishak, anak Abraham. Ketika la membuat perjanjian dengan Tuhan,
Dia menyebut Tuhan sebagai Ellohay.

II. Perwujudan Proteksi daji Tuhan :
a) Pada waktu kita bergandengan tangan, kita akan mendapat sesuatu dari Tuhan, Mazmur 91 :9-10
91:9 Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kau buat tempat
perteduhanmu,
91:10 malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;
Di tengah intimidasi, bencana, kita butuh perlindungan. Kita hendaknya memilih Yesus sebagai tempat perlindungan kita. Tidak ada satu malapetaka yang sanggup menyentuh hidup kita.
b) Tuhan adalah benteng
57:2 Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.
57:3 Aku berseru kepada Allah, Yang Mahatinggi, kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku.
57:5 Aku terbang di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.
57:4 Kiranya la mengirim utusan dan sorga dan menyelamatkan aku, mencela orang-orang yang menginjak-injak aku. S ela Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya
Benteng : Kasih Setianya yang terus menerus dari waktu ke waktu. Kita tidak dapat hidup di luar kasih setia Tuhan.

III. Hasil Proteksi Tuhan :
1. Dia akan melepaskan kita dari gangguan iblis
Di sorga tidak ada stock penyakit
Mazmur 91:2 akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu
pertahananku, Allahku, yang kupercayai."
Mazmur 91:3 Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap
burung, dari penyakit sampar yang busuk.
91:4 Dengan kepak-Nya la akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan
berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok
2. Kita diluputkan dari marabahaya & malapetaka yang mengancam, dari maut
Mazmur 116:8 Ya, Engkau telah meluputkan aku dari pada maut, dan mataku dari pada
air mata, dan kakiku dari pada tersandung.
3. Perlindungannya ialah dari kekuatan Illahi, yang melindungi kita dari kekuatan iblis.
91:13 Singa dan ular tedung akan kaulangkahi, engkau akan menginjak anak singa dan ular
naga.
Kita diben kuasa untuk memperoleh berkat, anugerah demi anugerah
Perlindungan dan Tuhan menyebabkan kita umur panjang.
91:16 Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya
keselamatan dari pada-Ku."

IV. Syarat untuk mendapat Proteksi yang konsisten
1. Duduk dalam lindungan yang maha tinggi. Harus mengimani bahwa Yesus Kristus adalah
Tuhan.
Tuhan mengatakan kita adalah biji mata Tuhan. Pasti perlindungan diberikan untuk kita. Dalam
menghadapi apapun kita tetap setia dan tetap tinggal dalam Tuhan maka perlindungan akan
datang.
2. Mazmur 91:14 "Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku
akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.
Melekat kepada Tuhan : Kerinduan untuk selalu dekat.
Hubungan yang lebih intim itulah yang menyebabkan kita mendapat perlindungan
3. Mazmur 91:15 Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai
dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya
Berseru kepada Tuhan sama seperti mengikatkan janji kepada Tuhan.. Ikatan janji membuat kita
berubah.